Selasa, 09 Agustus 2011

Menapaki dan mendaki Keridlaan Allah SWT

For All my friends!!!!
Mari kita buka catatan untuk menulis semua pesan....
Yang Allah SWT sampaikan lewat tiap detik episode peran..
Yang kita mainkan dalam kehidupan ini..
Kata peribahasa china, “tulisan yang buram lebih baik daripada hafalan yang kuat.”

So... daripada disimpan dalam fikiran, maka aku tuliskan catatan untuk kalian. Siapa tahu tulisan ini bisa menjadi lebih bermanfaat.

          Ada cinta yang disebut cinta tanpa syarat atau bahasa Inggrisnya disebut unconditionally love. Konon orang yang mempunyai cinta tanpa syarat ini segala sesuatunya dilakukan tanpa pamrih. Semua dilakukan hanya untuk membahagiakan yang dicintainya.

           Cinta tanpa syarat hanyalah pantas kita berikan pada Allah SWT, Begitulah dalam mencari keridhaan Allah SWT, Hal tersebut merupakan perbuatan manusia beriman dan beramal shaleh tanpa pamrih. Bahkan walau Allah SWT menjanjikan pahala yang besar untuk semua perbuatan baik, tapi pahala itu tidak dipikirkan.

            Manusia yang mengharap ridha Allah SWT adalah manusia yang merasa cukup dengan semua yang diberikan oleh Allah SWT berupa karunia. Manusia yang mengharap keridhaan Allah SWT tidak berpaling untuk mengharap perhiasan dunia, mengikuti orang yang hatinya lalai atau mengikuti hawa nafsu. Manusia yang mencari keridhaan Allah SWT akan menjalankan perintah-perintah Allah seperti mendirikan shalat, memberikan sebagian nafkah dengan sembunyi atau terang-terangan, bisa menolak kejahatan dengan kebaikan. Manusia yang mencari keridhaan Allah dengan seizin Allah akan dikeluarkan dari gelap gulita ke cahaya terang benderang dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Balasan bagi yang Allah ridha mereka dan mereka ridha kepada Allah SWT adalah surga.

               Namun sayangnya, untuk menggapai ridlo Allah SWT tak semudah yang kita bayangkan. Banyak sekali halangan yang muncul baik internal maupun external. Tentu saja untuk bisa menggapainya butuh suatu proses berkelanjutan.

             Sulit memang, Ibaratnya seperti menelusuri jalan yang sulit lagi mendaki. Kita bisa membayangkan bagaimana para pecinta alam mendaki puncak gunung. Mereka harus mengenakan pakaian tebal, memakai sepatu khusus, butuh semangat yang besar, saling mengikatkan diri (berkelompok/organisasi), lalu berjalan kaki mendaki tebing sedikit demi sedikit. Akhirnya sampailah mereka dipuncak.

              Tidak mudah berjalan mendaki keridloan Allah SWT. Halangan pertama adalah diri sendiri. Kemauan untuk membebaskan(ikhlas) itu kadang timbul, kadang tenggelam.

               Saat bersemangat, saat ada, saat mudah, kita leluasa mengeluarkan uang untuk berbagi. Namun ketika sulit, kitapun berhenti. Ketika butuh, kita tak mau berbagi dengan sesama & sering kali kita malah menyalahkan Allah SWT yang memberikan taqdir buruk pada kita.

Atau bisa jadi....

              Saat kita terkena musibah, diuji dengan kesusahan, merasa tidak mampu, kita selalu bersujud padaNya dan menyempatkan diri untuk berdo’a dengan khusyu’. Namun ketika do’a kita sudah dikabulkan, kesulitan sudah berganti menjadi kenikmatan, kesombongan kitapun mulai nampak dengan enggan berdo’a kepadanya bahkan jarang sekali meluangkan waktu untuk mendekat pada-Nya.

“Tidakkah tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar?
Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?
(Al Balad : 11 – 12)
               Jadi Allah menyebut terlebih dahulu bahwa ada jalan yang sulit lagi mendaki, didalam Qur’an disebut dengan Al Aqabah. Menurut Quraish Shihab, kata aqabah pada mulanya berarti “jalan yang sulit dipegunungan” atau “batu besar yang runcing didalam sumur, yang sering merusak timba” kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tinggi dan sukar. Kata aqabah ini juga mengandung arti yang sama dengan kata najd, yang ada pada ayat sebelumnya yang berarti jalan kebaikan yang tak mudah ditelusuri.

Apakah al-aqabah itu? Jawabnya ada di ayat berikutnya. Allah SWT berfirman :
‘(Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang – orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”
(Al Balad : 13 – 17)
             Didalam Surat Al Balad mengutarakan bahwa manusia haruslah bersusah payah mencari kebahagiaan dan Allah sendiri telah menunjukkan jalan yang membawa kepada kebaikan, dan jalan yang membawa kepada kesengsaraan. Tuhan menggambarkan bahwa jalan yang membawa kepada kebahagiaan itu lebih sulit menempuhnya daripada yang membawa kepada kesengsaraan.

              Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan; janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya; beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebAhagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.


                Jadi bisa disimpulkan bahwa, untuk mendapatkan keridloan Allah SWT maka kita harus banyak berbuat kebaikan dan terus berjuang menjadi pribadi yang bermanfaat, walaupun banyak  halangan yang berada disekitar kita. Baik itu berupa ujian yang diberikan oleh Allah SWT, Goda’an syetan bahkan bisa jadi dorongan nafsu kita sendiri.

               Jadi jangan pernah menyesal jikalau ternyata kehidupan yang kita jalani saat ini tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena kehidupan penuh liku adalah bagian dari proses untuk membedakan siapa saja yang bisa menjadikan kehidupan didunia ini sebagai bekal di akhirat, atau malah tenggelam dalam kehidupan didunia yang fana dan melupakan keberadaan hari akhir yang kekal.

               Ditengah perjalanan kehidupan sering timbul keraguan. Ketika menapak hari teringat semua yang pernah dilakukan, teringat semua kekhilafan yang kadang terulang dan terulang lagi... keraguan , penyesalan dan keinginan untuk segera kembali. Keinginan untuk menjadi lebih baik.

               Tidak ada yang lebih baik dari munculnya kesadaran untuk segera memperbaiki diri dan memberi manfaat pada yang lain.
 
               Segera kembali menuju Rabbi.. Segera kembali dalam tuntunan dan meretas jalan berliku, menapak hari yang pernah kelabu, kearah yang lebih indah.

                Mari kita keluar dari kegelapan menuju cahaya. Membuang jauh-jauh bayangan kelam yang pernah melintas dalam hidup ini...

               Syukuri saja!! jika ternyata di sekitar kita saat ini masih banyak kemiskinan, ketidakadilan dan kurangnya pemahaman tentang islam.. dll. Anggaplah hal tersebut sebagai ladang ibadah yang disediakan oleh Allah SWT kepada kita untuk segera memperoleh keridloan-Nya dengan cara membantu mereka.

             Maksimalkan potensi kita untuk berbuat lebih baik dan bermanfaat bagi semua, wujudkan perubahan yang lebih baik disetiap hal, jadikanlah agar keberadaan kita dimuka bumi ini bisa lebih berarti....

             Tidak semua orang mampu melakukan hal – hal yang besar, namun semua orang mampu melakukan hal – hal kecil dengan cinta yang besar.

Mari berusaha menjadi sosok yang oleh Rosulullah SAW. Dinyatakan,
 “Khairunnas, anfa’ahum linnas. Sebaik – baik manusia , dialah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Sungguh, InsyaAllah kita akan mendapatkan keridloannya ....
Ketika harapan , impian dan doa menyatu dalam kerinduan pada Nya..
Ketika kita menjadi perindu-perindu malam dalam kerinduan pada Nya...
Ketika menyadari itulah jalan-jalan yang harus dilewati menuju keindahan...
Ketika menyadari akan peran kita sebagai khalifah, yang terus membuat perbaikan di alam ini sesuai dengan tuntunan-Nya....


Teman...
Mari berjalan bergandeng Tangan
Perjalanan ini masih panjang
Gunung, Lembah dan jalanan berduri yang menghadang
Jauh lebih mudah kita hadapi
Jika kita tidak sendiri

Teman...
Berikan potensi terbaikmu
Negeri impian kita masih jauh
Bagaimana mungkin bisa berlabuh
Jika dayung tak segera kita kayuh

Teman...
Mari terbangkan Ruh..
Saling mengingatkan untuk meninggalkan kubangan Nafsu
Bersama – sama menaiki awan menembus galaksi
Dari sana kita lihat bumi
Dari cara pandang para Wali


Walaupun banyak kesulitan yang datang menghampiri kita
Jangan jadikan alasan untuk tidak bisa menebar kebaikan
Bangkit dan temukan kebahagiaan beserta ridlo Allah SWT dengan terus berbuat lebih baik
Atas nama Allah SWT
Atas nama Kemanusiaan
Atas nama Alam semesta
Atas nama CINTA


Written by Orang Akhir Zaman yang mengidolakan Ali setelah Rosulnya


Minggu, 24 Juli 2011

Ya Robb!! Aku ingin Bahagia........

     Tulisan ini aku buat, karena aku sering melihat dan membaca status yang mencerminkan perasaan dan kegundahan hati teman – teman di jejaring sosial. sehingga membuatku jadi Sok-tahu atas kegundahan yang teman – teman rasakan. Hehehe... tapi ku juga berterimakasih karena apa yang kalian lakukan telah menginspirasiku untuk menghadirkan karya tulis ini kepada kalian, yang semoga saja bisa menjadi suplemen bagi teman – teman supaya tidak larut berlama – lama dalam kesedihan dan kegundahan.
                     
    Setiap orang pasti ingin berhasil dengan segera, dan bisa merasakan kebahagiaan atas segala keberhasilannya.
    Setiap orang pasti ingin agar tujuannya akan segera terwujud, dan bisa merasakan kebahagiaan atas terwujudnya tujuannya.
                       
      Namun bagaimana bila semua itu tidak berhasil dan tidak terwujud!! Lalu “KAPAN WAKTUNYA untuk merasakan bahagia?” biasanya diantara kita akan menjawab, “Saya akan bahagia nanti. Nanti pada waktu saya sudah bertemu jodoh saya dan menikah, nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri, nanti pada saat saya meraih semua impian saya, nanti pada saat penghasilan saya sudah besar. Nanti.... nanti.... nanti ... dan seterusnya.” Berambisi untuk mencapai suatu titik tertinggi sih boleh – boleh aja, asal jangan penjarakan hati kita dalam kesedihan.

       Karena pemikiran nanti itulah, kita semakin dituntut untuk mengejar semua impian itu disaat ‘sekarang`. Semua pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran telah kita curahkan untuk masa ‘nanti’ yang  bahagia. Ritme kehidupan kita sangat cepat tetapi rasanya tidak pernah sampai dimasa ‘nanti’ yang bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat, keinginan yang serba instan dan target – target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang menginginkannya dan semua itu tidak pernah membuat kita puas apalagi bahagia. Tak jarang pula karena hal tersebut kita menjadi kufur atas nikmat yang telah Allah berikan pada kita.

“Memang amat tinggi letak kebahagiaan. Tetapi kita harus menuju kesana. Ada orang yang berputus asa berjalan kearahnya lantaran ia menyangka jalan kesana amat sukar. Padahal mudah, karena itu dimulai dari dirinya sendiri. (Said Mustafa)”.

       Cobalah sekarang kita kurangi ritme kehidupan dengan santai dan pelan dan membuatnya menjadi bermanfaat! Misalnya dengan mengisi waktu untuk bersujud dan rukuk dihadapan Allah serta berdzikir kepada-Nya, dengan mengeja ayat demi ayat kitab suci-Nya, dengan duduk menikmati pohon dan mengamati aliran air yang mengalir,  dengan mengambil hikmah dari semua kejadian dan kegagalan yang telah kita alami, dengan bermain dan mendengarkan cerita lucu anak – anak, makan malam & bersenda gurau bersama keluarga, atau dengan membagikan hal yang berharga dalam acara bakti sosial, dengan membagikan ilmu yang telah kita miliki kepada orang lain dengan harapan mereka bisa lebih hebat dari pada kita dan tidak tersesat dijalan yang salah. Rasakan, justru saat itulah hidup kita menjadi bahagia dan lebih indah juga berarti.
Menunjukkan jalan orang yang tersesat adalah sedekah. (Rasulullah SAW)
        Jika saja kita mau memelankan ritme hidup dengan penuh kesadaran, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita begitu berarti, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak – anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas, maka kita akan menyadari begitu banyak detail kehidupan yang teramat indah dan bisa kita syukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda  dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur.
Temukan Rasa kekanak - kanakanmu untuk meraih kebahagiaan
        Sering kali kita menyepelehkan hal – hal kecil dalam kehidupan kita. Enggan untuk berbuat sesuatu yang dirasa mempunyai sedikit manfaat dan keuntungan / keberhasilan. Begitulah, nafsu hanya memuaskan kita pada kesuksesan – kesuksesan yang kita anggap besar, keberhasilan – keberhasilan yang hingar bingar, dan keuntungan –keuntungan yang berlimpah. Bukankah api yang besar pada awalnya berawal dari api korek yang kecil, aliran air yang deras juga berasal dari beberapa tetesan air yang terus menetes secara istiqomah.

        Hati, mata dan pikiran kita telah dibutakan oleh semua proyek & tujuan besar yang bersifat materialistik  itu! Ketika proyek – proyek dan tujuan itu tidak berhasil kita raih, kita lantas meratap dan hanyut dalam kesedihan yang mendalam. “ Allah benar – benar kejam! Ini tidak adil, Dia tidak memberiku kebahagiaan,” barangkali keluh kesah inilah yang menghinggapi kita. Na’udzu billah.

        Teman – teman, kebahagiaan itu teramat murah dan mudah, selama kita tahu cara menikmati hidup ini. Kita tidak perlu tersandera oleh dogma kehidupan yang mendewakan kesuksesan, jabatan dan materi. Sadarilah bahwa didalam kesederhanaan  dan hal – hal kecil yang kita lalui setiap hari, banyak tersimpan segudang keindahan dan juga kebahagiaan.

Ketentraman, kedamaian, kepuasan dan ketenangan jiwa yang dirasakan oleh orang – orang yang berbahagia itu akan selalu dianugerahkan kepada yang mendekap mesra keimanan dalam dadanya. Bahkan, dengan ketenangan dan ketentraman itu imannya akan semakin bertambah dan makin kokoh (Dr. Hamzah Ya’kub).

        Teman – teman, kita bagaikan orang yang berada didalam mobil yang melewati jalan – jalan yang luar biasa indah pemandangannya. Tetapi, disaat itulah kita justru menutup gorden jendela (hati) kita, sehingga keindahan apapun yang berada disekeliling kita, walaupun dekat, tidak akan pernah kita lihat apalagi merasakannya. Maka mulai hari ini jangan hanya membuka mata kita untuk melihat sesuatu, tetapi bukalah mata hati kita untuk mengenali apa yang berada di sekeliling kita.

        Berbahagialah karena  Allah senantiasa mengasihi kita dengan segudang kebahagiaan yang diberikan-Nya! Hanya, terkadang kita tidak pernah mau menyadarinya.
Jika kita ingin bahagia, maka temukanlah cara yang bisa membuat orang lain bahagia... dan buat agar orang lain bahagia karenamu.

Sepenggal kisah Inspiratif
Wanita Ummu Mahjan
       Ummu Mahjan adalah seorang wanita madinah berkulit hitam yang tidak pernah mengeluh apalagi bersedih menyesali nasibnya. Meski miskin dan bertubuh lemah, ia bahagia karena menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap aqidahnya dan masyarakat islam. Tetapi, apa yang bisa ia lakukan sementara ia sendiri adalah seorang wanita tua yang miskin dan lemah? Ia tidak pernah bimbang dan putus asa tentang hal itu. Baginya putus asa tidaklah dikenal di hati orang – orang yang beriman.

        Ia bahkan tertinggal dalam membela islam. Memang, ia tidak bisa berbuat seperti layaknya orang lain. Ia tidak punya harta untuk  diinfakkan. Juga tidak memiliki tenaga untuk pergi kemedan perang. Tapi, ia tidak pernah ketinggalan beramal. Kebahagiaan baginya adalah mencintai rasulullah, maka Ia ingin dirinya dikenang oleh Rosulullah SAW. Sehingga, dengan segenap semangat dan sisa tenaga yang ia miliki, ia melakukan suatu pekerjaan yang tidak pernah dilirik oleh orang lain, yaitu membersihkan masjid Rasulullah. Tiap hari beliau membersihkannya, sampai akhir hayatnya.


Kegigihan ummu mahjanpun menuai hasil. Malam itu, seusai sholat isya’, ummu mahjan dipanggil menghadap sang maha pencipta. Rasulullah merasa bersedih dan kehilangan wanita mulia itu. Wanita miskin itu begitu lekat dalam ingatan beliau. Setiap hari wanita beruban itu bekerja keras membersihkan masjid dengan senangnya. Sehingga rumah Allah itu benar – benar menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah dan bermusyawarah.

         Wanita tua berkulit hitam itu memang bukan seorang pahlawan, tetapi sejarah telah mengukir namanya dengan tinta emas, meski nama aslinya tidak dikenal orang. Ummu mahjan adalah contoh dari orang yang berbuat seadanya, tetapi memperoleh kemuliaan dari ketekunan apa yang ia lakukan. Ia isi kehidupannya hari demi hari dengan penuh kebahagiaan dan keberkahan sampai akhir hayatnya dengan sebuah pekerjaan sederhana namun syarat akan pahala.

Amal yang dicintai Allah ialah yang dikerjakan terus – menerus meskipun sedikit (Sabda Rasulullah)

         Jika ummu mahjan saja dengan tubuh yang lemah dan fisik yang lemah tak pernah mengeluh dengan keadaannya tapi selalu bahagia, karena berpegang teguh pada aqidahnya.
                     
        Lalu bagaimana dengan kita manusia yang dilengkapi tubuh sempurna dan fisik masih kuat, masih pantaskah kita untuk bersedih dan menjadikan alasan keemiskinan dan keterbatasan untuk tidak berbuat yang mulia dijalan Allah SWT.

Berbahagialah kawan & Tunjukkan Aktifitas terbaik dijalan Allah.....
La Tahzan.. Innallaha ma’ana

Jumat, 13 Mei 2011

Selimuti kepedihan & Amarahmu untuk melahirkan Cinta & Manfaat


Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah kelengkapan perasaan, ada suka ada duka, ada sakit ada kenikmatan, ada kecintaan ada kepedihan, ada manis ada pahit, ada kebahagiaan dan ada kesedihan. Mereka datang sebagai saudara kembar, yang silih berganti menghampiri kita, menemani kita dan membesarkan diri dan jiwa kita.
          
             Kita harus belajar menikmati kesedihan. Kegagalan adalah saudara kembar kesuksesan, tak ada arti tawa bila tangis tidak kita lalui. Lihatlah betapa dekat mereka: Orang yang sangat berbahagia akan menangis dan orang yang sangat sedihpun bisa tertawa hambar. hal itu pasti terjadi pada semua orang. Presiden ataupun pengamen akan sama bahagia dan sedihnya menghadapi keagungan hidup ini.

Tak ada orang yang menginginkan kesedihan, namun setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya sedih dan sakit hati. Entah itu karena kecewa, putus cinta, putus harapan, dikhianati atau disakiti orang lain dan banyak sekali penyebabnya.

Kepedihan maupun kesedihan juga amarah yang berada didalam hati memang sangat berbahaya, dalam hal ini saya ilustrasikan seperti api yang panasnya mampu membakar apapun yang berada didekatnya, sehingga sangat berbahaya jika kita tidak bisa megendalikannya. Pada akhirnya nanti hal tersebut akan sangat merugikan orang lain bahkan bisa membakar diri kita sendiri.

Tak selamanya hal yang buruk bisa menghasilkan sesuatu yang buruk. Bukannya Allah SWT memberikan kejadian yang buruk pada kita, tidak lain hanyalah untuk meningkatkan kualitas pribadi kita yang mana kita disuruh untuk mengubah hal buruk tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Saya akan mengilustrasikan konsep pengendalian kesedihan dan rasa sakit hati juga amarah seperti halnya penanganan pada api yang tentunya bisa memberikan rasa yang panas dan membakar namun juga bisa memberikan suatu keindahan dan manfaat sebagai cahaya penerang bagi kita.

Lalu seperti apakah konsep penanganannya? Saya akan mengilustrasikan konsep pengendaliannya pada 4 hal yang bisa menjadi sumber/media Api yang meliputi korek api, lilin, lentera dan lampu pijar. Adapun ilustrasinya adalah sebagai berikut :

1.      1. Korek Api

Korek api mempunyai kepala tetapi tidak ada otak sehingga mudah terbakar bila digesek. Korek api yang bagus adalah korek api yang segera terbakar atau menyala saat mengalami gesekan. Cara yang sama, yang sering digunakan oleh orang – orang yang tempramental (emosi labil). Jadi bila mereka mengalami gesekan, misalnya karena dimarahi, dicela, dikata-katai, atau dipukul orang lain yang bisa membuatnya sakit hati, maka biasanya mereka langsung terbakar sehingga menjadi panas hati dan emosional. Bila mereka menjadi emosional, maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan tenang karena hati mereka telah terbakar; saat itu nalar mereka sudah tidak terpakai lagi, yang ada dalam diri mereka hanyalah nafsu untuk mengeluarkan rasa marah dan keinginan untuk membalas dendam.

Meski nyalanya tidak terlalu lama, namun bisa menyulut/membakar apapun yang berada disekelilingnya termasuk membakar pribadi yang memegangnya. Bisa dikatakan orang yang mempunyai karakter seperti ini sering mengeluarkan seluruh amarahnya untuk membuang rasa panas dihatinya. Supaya dalam waktu dekat api amarah di hatinya bisa padam, namun secara tidak langsung api amarah yang keluar secara tak terkendali entah itu dengan cara menangis, mengeluh, marah bahkan menyalahkan orang lain berpotensi membakar  & menimbulkan api baru di sekelilingnya sehingga bisa menjatuhkan kwalitas pribadi yang bersangkutan tersebut.

2.      2. Lilin

Walaupun hanya sesaat, Lilin mampu memberikan cahaya harapan, meski tubuhnya harus melemah dan meleleh hingga api tersebut mati. Orang yang mempunyai karakteristik seperti lilin biasanya suka menahan api amarahnya dalam kediaman. Begitulah lilin, tak peduli tubuhnya terus melepuh dan meleleh demi menjaga Api yang dia gunakan untuk menerangi keadaan disekelilingnya. Mungkin orang disekitarnya bisa menikmati cahaya senyuman yang berasal darinya. Namun bila kita tahu sebenarnya orang ini menyakiti dirinya sendiri.
Berbeda dengan korek api, nyala api pada lilin tidak digunakan untuk membakar sesuatu yang berada disekelilingnya melainkan hanya untuk memberikan secercah cahaya harapan pada orang – orang yang berada didekatnya. Api amarah dan  dan beban kepedihan serta sakit hati yang dipendam dalam hatinya secara perlahan – lahan akan melelehkan hatinya dan orang ini biasanya mengalami tekanan batin, sehingga pada akhirnya jiwanya bisa terganggu karena tidak bisa menahan rasa panas dari kepedihan dan amarah yang terus menyulut dalam dirinya. Mungkin bisa dibilang dia bisa memberikan penerangan sesaat namun sesaat lagi sudah tak berarti, melemah dan meleleh di akhir kisah.

3. Lentera

Lentera sebagai lampu remang-remang yang menggambarkan tentang kesederhanaan, pelita yang menyinari kegelapan, dan sebagai lambang sebuah harapan yang tersisa. Bagi pribadi ini, sakit hati atau amarah tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Karena dia mampu membuat api amarah dan sakit hatinya menjadi suatu keindahan dengan cara membungkusnya. Api amarah karena sakit hati yang berada didalam dirinya diselimuti oleh tabir kebaikan yang menjadikan aktivitas positif dan bermanfaat olehnya. Seperti halnya kertas yang mampu menahan panas didalamnya lalu mengubah panas tersebut menjadi cahaya manfaat yang terlihat indah dan mampu memberikan penerangan disekelilingnya.
Namun meskipun begitu indah, tapi ada yang perlu diwaspadai pada lentera ini. Ketika tabir kebaikannya tergoyang oleh hembusan angin pujian / hujatan yang datang menghampiri dengan kencangnya. Sehingga dikhawatirkan membuat tabir kebaikan tersebut bergerak mendekati api amarah didalam jiwanya atau sebaliknya angin pujian tersebut berhembus pada kepedihan dan api amarah yang membuat nyalanya tidak terkendali yang pada akhirnya tabir kebaikan akan terbakar dan yang tersisa hanyalah serpihan abu riya’ yang berasal dari kebaikan tersebut. Oleh karena itu buat mereka yang terbiasa mengatasi amarah dan sakit hati seperti yang dilakukan oleh lentera harus lebih berhati – hati pada angin pujian dan hujatan, hendaknya segeralah belajar ilmu IKHLAS.

4. Lampu Pijar

            Lampu pijar menggambarkan mendekati pada kesempurnaan dalam mengelola api dan energi panas yang berada dalam ruang hampa untuk diubah menjadi energi cahaya. Nyala api dan panas dari api apabila berada pada ruang hampa udara yang diselimuti oleh tabir kaca yang bening tidak akan mampu membakar atau merugikan sesuatu yang menyentuhnya karena yang keluar hanyalah cahaya terang bukan panasnya.
            Begitu juga dengan mereka yang mengatasi kepedihan dan api amarah karena sakit hati dengan berprinsip pada kinerja lampu pijar. Intinya hanyalah menanamkan keikhlasan kedalam hatinya, orang yang ikhlas adalah orang yang bersih dan tulus jadi bentuk ikhlas dalam konsep ilustrasi lampu pijar adalah mengeluarkan seluruh unsur/udara negatif (kesia – siaan dan kemubadhiran) yang berada didalam hati kita, lalu kita selimuti dengan tabir kebaikan dan aktifitas yang positif. Sehingga kepedihan, rasa sakit hati dan amarah dalam diri kita akan dengan sendirinya keluar menjadi cahaya terang yang menjadikan manfaat bagi semua orang. Dengan demikian semakin panas api/amarah yang berada didalam dirinya maka semakin terang pula cahaya yang dikeluarkan karena mereka mempunyai kemampuan untuk mengubah energi panas menjadi cahaya yakni kemampuan untuk selalu merubah dan memperbaiki diri dari kesalahan – kesalahan yang dibuatnya baik sengaja maupun tidak. 

            Demikianlah konsep ilustrasi sederhana yang menggambarkan cara mengendalikan amarah dan kepedihan akibat sakit hati, semoga kita semua bisa belajar mengatur emosi kita dalam mengendalikan kepedihan dan amarah dalam hati secara bertahap mulai dari korek api hingga akhirnya menjadi lampu pijar, seperti yang pernah dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib RA.

            Tentunya kalian masih ingatkan cerita cinta Ali Ibn Abi Thalib, Suatu hari dia mencintai seorang wanita dan wanita itu adalah siti fathimah. Namun ternyata tanpa sepengetahuannya, wanita yang dicintainya tersebut dicintai juga oleh sahabatnya sendiri bahkan sampai dilamar oleh sahabatnya sendiri. Mungkin saat itu yang dirasakan oleh Ali adalah kekecewaan, amarah dan sakit hati pada sahabatnya, namun dia mampu mengendalikan amarah dihatinya dengan keikhlasan layaknya yang dilakukan oleh lampu pijar dalam mengubah energi dari panas menjadi secercah cahaya yang berarti.begitu juga yang dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi thalib saat siti fatimah dilamar oleh sahabatnya dia terus berdo’a padaNya sambil memperbaiki diri untuk selalu berbuat positif dengan terus berikhtiar juga menemani Rosulullah SAW dalam berdakwah dan berjuang, hingga pada akhirnya lamaran sahabatnya ditolak semua dan Imam Ali berhasil menikahi siti fathimah. Untuk lebih jelasnya kalian bisa melihat kisahnya pada link berikut ini :
          Lain Ali, lain juga dengan kisah cinta Romeo dan Juliet,  dalam ceritanya 2 sejoli ini (romeo & juliet) saling mencintai. Namun cinta mereka tidak direstui oleh orang tuanya hingga pada akhirnya orang tua juliet berencana menikahkan putrinya dengan pria lain. Sayangnya apa yang dilakukan romeo tidak seperti yang dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib. Romeo nekat untuk menggunakan cara korek api dalam mengendalikan amarah dan kepedihan / emosi yang terdapat didalam hatinya. Mungkin karena dia tidak belajar ilmu IKHLAS sehingga merasa sudah melewati jalan buntu maka diakhir kisahnya romeo meninggal dunia karena bunuh diri lalu disusul oleh kekasihnya(juliet). Bayangkan saja mereka menjadi emosional, karena mereka lebih mencintai kekasihnya daripada Sang pemilik cinta. Oleh karena itu mereka tidak dapat lagi berpikir dengan tenang karena hati mereka telah terbakar; saat itu nalar mereka sudah tidak terpakai lagi, yang ada dalam diri mereka hanyalah nafsu untuk mengeluarkan emosinya akibat kepedihan hati dan keinginan untuk mengakhiri semuanya dengan kesia - siaan.

            Anehnya banyak remaja di dunia saat ini yang menjadikan kisah cinta Romeo dan Juliet sebagai panutan cinta yang abadi bahkan tak jarang pula remaja islam yang mengaguminya. Padahal kita bisa lihat dari cerita diatas untuk mengendalikan emosinya saja mereka berdua tidak bisa. Semoga saja kita semua bisa menirukan apa yang dilakukan oleh Amirul mukminin Imam Ali Ibn Abi Thalib dalam mencintai seseorang. Semakin dia mencintai seseorang maka semakin besar pula kecintaannya pada sang pemilik cinta (Allah Aza wajallah), sehingga bisa merubah kepedihan hati juga emosi dari dalam hatinya menjadi aktifitas yang positif sehingga bisa memberikan cahaya manfaat pada semua orang.

Cinta melahirkan keajaiban, cinta tidak mengenal waktu, kita harus mengucapkan dan menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya. Karena cinta kisah mereka dikenang sepanjang zaman. Karena cinta maka terciptalah Taj Mahal,karena kecintaan pada Allah SWT terbentuklah mushaf Al Qur’an. Cinta melahirkan kebesaran dan keagungan. Cinta yang agung salalu menyentuh kita dan menitikkan air mata haru.

Sakit Hati & Kepedihan itu seperti Jarum yang menusuk hatimu, biarkan tercipta lubang dihatimu walaupun terasa sakit, supaya kegelapan hati kita bisa ditembus oleh cahaya dari luar. Sesuai dengan firman Allah SWT QS (An Nur) 24:35
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.perumpamaan cahayaNya seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam tabung kaca, (dan) tabung kava itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur tidak pula di barat, yang minyaknya (saja), hampir – hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis – lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan – perumpamaan bagi manusia. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.
            Ketika kita mengejar sukses dan kebahagiaan, kita akan terperangkap dan terjebak pada hutan liar, kupu-kupu hanya akan datang sendiri saat kita diam dan termenung menikmati kesedihan kita. Karena ketika ketenangan menjenguk kita, semua akan terlihat lebih terang, tanpa perlu menyilaukan. Kegelapan dapat menyembunyikan meja, kursi, pohon, batu, gunung, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan cahaya cinta.
          
           Nikmatilah apapun yang datang dan menjenguk anda. Arti terbesar hidup ini pada akhirnya adalah perjalanan hidup ini sendiri. Tidak ada tujuan akhir, yang ada hanyalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita nikmati.
            
            Tidak ada kebencian, tidak ada penyesalan, tidak ada pengorbanan, yang ada hanyalah rasa syukur yang dalam dan cinta tanpa batas waktu. Selamat menuai cinta kalian dan berikanlah manfaat sebanyak – banyaknya. Insya Allah we’ll find the way.


By : orang akhir zaman yang mengidolakan Ali setelah rosulnya