Jumat, 13 Mei 2011

Selimuti kepedihan & Amarahmu untuk melahirkan Cinta & Manfaat


Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah kelengkapan perasaan, ada suka ada duka, ada sakit ada kenikmatan, ada kecintaan ada kepedihan, ada manis ada pahit, ada kebahagiaan dan ada kesedihan. Mereka datang sebagai saudara kembar, yang silih berganti menghampiri kita, menemani kita dan membesarkan diri dan jiwa kita.
          
             Kita harus belajar menikmati kesedihan. Kegagalan adalah saudara kembar kesuksesan, tak ada arti tawa bila tangis tidak kita lalui. Lihatlah betapa dekat mereka: Orang yang sangat berbahagia akan menangis dan orang yang sangat sedihpun bisa tertawa hambar. hal itu pasti terjadi pada semua orang. Presiden ataupun pengamen akan sama bahagia dan sedihnya menghadapi keagungan hidup ini.

Tak ada orang yang menginginkan kesedihan, namun setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya sedih dan sakit hati. Entah itu karena kecewa, putus cinta, putus harapan, dikhianati atau disakiti orang lain dan banyak sekali penyebabnya.

Kepedihan maupun kesedihan juga amarah yang berada didalam hati memang sangat berbahaya, dalam hal ini saya ilustrasikan seperti api yang panasnya mampu membakar apapun yang berada didekatnya, sehingga sangat berbahaya jika kita tidak bisa megendalikannya. Pada akhirnya nanti hal tersebut akan sangat merugikan orang lain bahkan bisa membakar diri kita sendiri.

Tak selamanya hal yang buruk bisa menghasilkan sesuatu yang buruk. Bukannya Allah SWT memberikan kejadian yang buruk pada kita, tidak lain hanyalah untuk meningkatkan kualitas pribadi kita yang mana kita disuruh untuk mengubah hal buruk tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Saya akan mengilustrasikan konsep pengendalian kesedihan dan rasa sakit hati juga amarah seperti halnya penanganan pada api yang tentunya bisa memberikan rasa yang panas dan membakar namun juga bisa memberikan suatu keindahan dan manfaat sebagai cahaya penerang bagi kita.

Lalu seperti apakah konsep penanganannya? Saya akan mengilustrasikan konsep pengendaliannya pada 4 hal yang bisa menjadi sumber/media Api yang meliputi korek api, lilin, lentera dan lampu pijar. Adapun ilustrasinya adalah sebagai berikut :

1.      1. Korek Api

Korek api mempunyai kepala tetapi tidak ada otak sehingga mudah terbakar bila digesek. Korek api yang bagus adalah korek api yang segera terbakar atau menyala saat mengalami gesekan. Cara yang sama, yang sering digunakan oleh orang – orang yang tempramental (emosi labil). Jadi bila mereka mengalami gesekan, misalnya karena dimarahi, dicela, dikata-katai, atau dipukul orang lain yang bisa membuatnya sakit hati, maka biasanya mereka langsung terbakar sehingga menjadi panas hati dan emosional. Bila mereka menjadi emosional, maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan tenang karena hati mereka telah terbakar; saat itu nalar mereka sudah tidak terpakai lagi, yang ada dalam diri mereka hanyalah nafsu untuk mengeluarkan rasa marah dan keinginan untuk membalas dendam.

Meski nyalanya tidak terlalu lama, namun bisa menyulut/membakar apapun yang berada disekelilingnya termasuk membakar pribadi yang memegangnya. Bisa dikatakan orang yang mempunyai karakter seperti ini sering mengeluarkan seluruh amarahnya untuk membuang rasa panas dihatinya. Supaya dalam waktu dekat api amarah di hatinya bisa padam, namun secara tidak langsung api amarah yang keluar secara tak terkendali entah itu dengan cara menangis, mengeluh, marah bahkan menyalahkan orang lain berpotensi membakar  & menimbulkan api baru di sekelilingnya sehingga bisa menjatuhkan kwalitas pribadi yang bersangkutan tersebut.

2.      2. Lilin

Walaupun hanya sesaat, Lilin mampu memberikan cahaya harapan, meski tubuhnya harus melemah dan meleleh hingga api tersebut mati. Orang yang mempunyai karakteristik seperti lilin biasanya suka menahan api amarahnya dalam kediaman. Begitulah lilin, tak peduli tubuhnya terus melepuh dan meleleh demi menjaga Api yang dia gunakan untuk menerangi keadaan disekelilingnya. Mungkin orang disekitarnya bisa menikmati cahaya senyuman yang berasal darinya. Namun bila kita tahu sebenarnya orang ini menyakiti dirinya sendiri.
Berbeda dengan korek api, nyala api pada lilin tidak digunakan untuk membakar sesuatu yang berada disekelilingnya melainkan hanya untuk memberikan secercah cahaya harapan pada orang – orang yang berada didekatnya. Api amarah dan  dan beban kepedihan serta sakit hati yang dipendam dalam hatinya secara perlahan – lahan akan melelehkan hatinya dan orang ini biasanya mengalami tekanan batin, sehingga pada akhirnya jiwanya bisa terganggu karena tidak bisa menahan rasa panas dari kepedihan dan amarah yang terus menyulut dalam dirinya. Mungkin bisa dibilang dia bisa memberikan penerangan sesaat namun sesaat lagi sudah tak berarti, melemah dan meleleh di akhir kisah.

3. Lentera

Lentera sebagai lampu remang-remang yang menggambarkan tentang kesederhanaan, pelita yang menyinari kegelapan, dan sebagai lambang sebuah harapan yang tersisa. Bagi pribadi ini, sakit hati atau amarah tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Karena dia mampu membuat api amarah dan sakit hatinya menjadi suatu keindahan dengan cara membungkusnya. Api amarah karena sakit hati yang berada didalam dirinya diselimuti oleh tabir kebaikan yang menjadikan aktivitas positif dan bermanfaat olehnya. Seperti halnya kertas yang mampu menahan panas didalamnya lalu mengubah panas tersebut menjadi cahaya manfaat yang terlihat indah dan mampu memberikan penerangan disekelilingnya.
Namun meskipun begitu indah, tapi ada yang perlu diwaspadai pada lentera ini. Ketika tabir kebaikannya tergoyang oleh hembusan angin pujian / hujatan yang datang menghampiri dengan kencangnya. Sehingga dikhawatirkan membuat tabir kebaikan tersebut bergerak mendekati api amarah didalam jiwanya atau sebaliknya angin pujian tersebut berhembus pada kepedihan dan api amarah yang membuat nyalanya tidak terkendali yang pada akhirnya tabir kebaikan akan terbakar dan yang tersisa hanyalah serpihan abu riya’ yang berasal dari kebaikan tersebut. Oleh karena itu buat mereka yang terbiasa mengatasi amarah dan sakit hati seperti yang dilakukan oleh lentera harus lebih berhati – hati pada angin pujian dan hujatan, hendaknya segeralah belajar ilmu IKHLAS.

4. Lampu Pijar

            Lampu pijar menggambarkan mendekati pada kesempurnaan dalam mengelola api dan energi panas yang berada dalam ruang hampa untuk diubah menjadi energi cahaya. Nyala api dan panas dari api apabila berada pada ruang hampa udara yang diselimuti oleh tabir kaca yang bening tidak akan mampu membakar atau merugikan sesuatu yang menyentuhnya karena yang keluar hanyalah cahaya terang bukan panasnya.
            Begitu juga dengan mereka yang mengatasi kepedihan dan api amarah karena sakit hati dengan berprinsip pada kinerja lampu pijar. Intinya hanyalah menanamkan keikhlasan kedalam hatinya, orang yang ikhlas adalah orang yang bersih dan tulus jadi bentuk ikhlas dalam konsep ilustrasi lampu pijar adalah mengeluarkan seluruh unsur/udara negatif (kesia – siaan dan kemubadhiran) yang berada didalam hati kita, lalu kita selimuti dengan tabir kebaikan dan aktifitas yang positif. Sehingga kepedihan, rasa sakit hati dan amarah dalam diri kita akan dengan sendirinya keluar menjadi cahaya terang yang menjadikan manfaat bagi semua orang. Dengan demikian semakin panas api/amarah yang berada didalam dirinya maka semakin terang pula cahaya yang dikeluarkan karena mereka mempunyai kemampuan untuk mengubah energi panas menjadi cahaya yakni kemampuan untuk selalu merubah dan memperbaiki diri dari kesalahan – kesalahan yang dibuatnya baik sengaja maupun tidak. 

            Demikianlah konsep ilustrasi sederhana yang menggambarkan cara mengendalikan amarah dan kepedihan akibat sakit hati, semoga kita semua bisa belajar mengatur emosi kita dalam mengendalikan kepedihan dan amarah dalam hati secara bertahap mulai dari korek api hingga akhirnya menjadi lampu pijar, seperti yang pernah dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib RA.

            Tentunya kalian masih ingatkan cerita cinta Ali Ibn Abi Thalib, Suatu hari dia mencintai seorang wanita dan wanita itu adalah siti fathimah. Namun ternyata tanpa sepengetahuannya, wanita yang dicintainya tersebut dicintai juga oleh sahabatnya sendiri bahkan sampai dilamar oleh sahabatnya sendiri. Mungkin saat itu yang dirasakan oleh Ali adalah kekecewaan, amarah dan sakit hati pada sahabatnya, namun dia mampu mengendalikan amarah dihatinya dengan keikhlasan layaknya yang dilakukan oleh lampu pijar dalam mengubah energi dari panas menjadi secercah cahaya yang berarti.begitu juga yang dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi thalib saat siti fatimah dilamar oleh sahabatnya dia terus berdo’a padaNya sambil memperbaiki diri untuk selalu berbuat positif dengan terus berikhtiar juga menemani Rosulullah SAW dalam berdakwah dan berjuang, hingga pada akhirnya lamaran sahabatnya ditolak semua dan Imam Ali berhasil menikahi siti fathimah. Untuk lebih jelasnya kalian bisa melihat kisahnya pada link berikut ini :
          Lain Ali, lain juga dengan kisah cinta Romeo dan Juliet,  dalam ceritanya 2 sejoli ini (romeo & juliet) saling mencintai. Namun cinta mereka tidak direstui oleh orang tuanya hingga pada akhirnya orang tua juliet berencana menikahkan putrinya dengan pria lain. Sayangnya apa yang dilakukan romeo tidak seperti yang dilakukan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib. Romeo nekat untuk menggunakan cara korek api dalam mengendalikan amarah dan kepedihan / emosi yang terdapat didalam hatinya. Mungkin karena dia tidak belajar ilmu IKHLAS sehingga merasa sudah melewati jalan buntu maka diakhir kisahnya romeo meninggal dunia karena bunuh diri lalu disusul oleh kekasihnya(juliet). Bayangkan saja mereka menjadi emosional, karena mereka lebih mencintai kekasihnya daripada Sang pemilik cinta. Oleh karena itu mereka tidak dapat lagi berpikir dengan tenang karena hati mereka telah terbakar; saat itu nalar mereka sudah tidak terpakai lagi, yang ada dalam diri mereka hanyalah nafsu untuk mengeluarkan emosinya akibat kepedihan hati dan keinginan untuk mengakhiri semuanya dengan kesia - siaan.

            Anehnya banyak remaja di dunia saat ini yang menjadikan kisah cinta Romeo dan Juliet sebagai panutan cinta yang abadi bahkan tak jarang pula remaja islam yang mengaguminya. Padahal kita bisa lihat dari cerita diatas untuk mengendalikan emosinya saja mereka berdua tidak bisa. Semoga saja kita semua bisa menirukan apa yang dilakukan oleh Amirul mukminin Imam Ali Ibn Abi Thalib dalam mencintai seseorang. Semakin dia mencintai seseorang maka semakin besar pula kecintaannya pada sang pemilik cinta (Allah Aza wajallah), sehingga bisa merubah kepedihan hati juga emosi dari dalam hatinya menjadi aktifitas yang positif sehingga bisa memberikan cahaya manfaat pada semua orang.

Cinta melahirkan keajaiban, cinta tidak mengenal waktu, kita harus mengucapkan dan menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya. Karena cinta kisah mereka dikenang sepanjang zaman. Karena cinta maka terciptalah Taj Mahal,karena kecintaan pada Allah SWT terbentuklah mushaf Al Qur’an. Cinta melahirkan kebesaran dan keagungan. Cinta yang agung salalu menyentuh kita dan menitikkan air mata haru.

Sakit Hati & Kepedihan itu seperti Jarum yang menusuk hatimu, biarkan tercipta lubang dihatimu walaupun terasa sakit, supaya kegelapan hati kita bisa ditembus oleh cahaya dari luar. Sesuai dengan firman Allah SWT QS (An Nur) 24:35
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.perumpamaan cahayaNya seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam tabung kaca, (dan) tabung kava itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur tidak pula di barat, yang minyaknya (saja), hampir – hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis – lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan – perumpamaan bagi manusia. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.
            Ketika kita mengejar sukses dan kebahagiaan, kita akan terperangkap dan terjebak pada hutan liar, kupu-kupu hanya akan datang sendiri saat kita diam dan termenung menikmati kesedihan kita. Karena ketika ketenangan menjenguk kita, semua akan terlihat lebih terang, tanpa perlu menyilaukan. Kegelapan dapat menyembunyikan meja, kursi, pohon, batu, gunung, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan cahaya cinta.
          
           Nikmatilah apapun yang datang dan menjenguk anda. Arti terbesar hidup ini pada akhirnya adalah perjalanan hidup ini sendiri. Tidak ada tujuan akhir, yang ada hanyalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita nikmati.
            
            Tidak ada kebencian, tidak ada penyesalan, tidak ada pengorbanan, yang ada hanyalah rasa syukur yang dalam dan cinta tanpa batas waktu. Selamat menuai cinta kalian dan berikanlah manfaat sebanyak – banyaknya. Insya Allah we’ll find the way.


By : orang akhir zaman yang mengidolakan Ali setelah rosulnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar