Tulisan ini aku buat, karena aku sering melihat dan membaca status yang mencerminkan perasaan dan kegundahan hati teman – teman di jejaring sosial. sehingga membuatku jadi Sok-tahu atas kegundahan yang teman – teman rasakan. Hehehe... tapi ku juga berterimakasih karena apa yang kalian lakukan telah menginspirasiku untuk menghadirkan karya tulis ini kepada kalian, yang semoga saja bisa menjadi suplemen bagi teman – teman supaya tidak larut berlama – lama dalam kesedihan dan kegundahan.
Setiap orang pasti ingin berhasil dengan segera, dan bisa merasakan kebahagiaan atas segala keberhasilannya.
Setiap orang pasti ingin agar tujuannya akan segera terwujud, dan bisa merasakan kebahagiaan atas terwujudnya tujuannya.
Namun bagaimana bila semua itu tidak berhasil dan tidak terwujud!! Lalu “KAPAN WAKTUNYA untuk merasakan bahagia?” biasanya diantara kita akan menjawab, “Saya akan bahagia nanti. Nanti pada waktu saya sudah bertemu jodoh saya dan menikah, nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri, nanti pada saat saya meraih semua impian saya, nanti pada saat penghasilan saya sudah besar. Nanti.... nanti.... nanti ... dan seterusnya.” Berambisi untuk mencapai suatu titik tertinggi sih boleh – boleh aja, asal jangan penjarakan hati kita dalam kesedihan.
Karena pemikiran nanti itulah, kita semakin dituntut untuk mengejar semua impian itu disaat ‘sekarang`. Semua pengorbanan waktu, tenaga, harta dan pikiran telah kita curahkan untuk masa ‘nanti’ yang bahagia. Ritme kehidupan kita sangat cepat tetapi rasanya tidak pernah sampai dimasa ‘nanti’ yang bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat, keinginan yang serba instan dan target – target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang menginginkannya dan semua itu tidak pernah membuat kita puas apalagi bahagia. Tak jarang pula karena hal tersebut kita menjadi kufur atas nikmat yang telah Allah berikan pada kita.
“Memang amat tinggi letak kebahagiaan. Tetapi kita harus menuju kesana. Ada orang yang berputus asa berjalan kearahnya lantaran ia menyangka jalan kesana amat sukar. Padahal mudah, karena itu dimulai dari dirinya sendiri. (Said Mustafa)”.
Cobalah sekarang kita kurangi ritme kehidupan dengan santai dan pelan dan membuatnya menjadi bermanfaat! Misalnya dengan mengisi waktu untuk bersujud dan rukuk dihadapan Allah serta berdzikir kepada-Nya, dengan mengeja ayat demi ayat kitab suci-Nya, dengan duduk menikmati pohon dan mengamati aliran air yang mengalir, dengan mengambil hikmah dari semua kejadian dan kegagalan yang telah kita alami, dengan bermain dan mendengarkan cerita lucu anak – anak, makan malam & bersenda gurau bersama keluarga, atau dengan membagikan hal yang berharga dalam acara bakti sosial, dengan membagikan ilmu yang telah kita miliki kepada orang lain dengan harapan mereka bisa lebih hebat dari pada kita dan tidak tersesat dijalan yang salah. Rasakan, justru saat itulah hidup kita menjadi bahagia dan lebih indah juga berarti.
Menunjukkan jalan orang yang tersesat adalah sedekah. (Rasulullah SAW)
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup dengan penuh kesadaran, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita begitu berarti, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak – anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas, maka kita akan menyadari begitu banyak detail kehidupan yang teramat indah dan bisa kita syukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur.
![]() |
| Temukan Rasa kekanak - kanakanmu untuk meraih kebahagiaan |
Sering kali kita menyepelehkan hal – hal kecil dalam kehidupan kita. Enggan untuk berbuat sesuatu yang dirasa mempunyai sedikit manfaat dan keuntungan / keberhasilan. Begitulah, nafsu hanya memuaskan kita pada kesuksesan – kesuksesan yang kita anggap besar, keberhasilan – keberhasilan yang hingar bingar, dan keuntungan –keuntungan yang berlimpah. Bukankah api yang besar pada awalnya berawal dari api korek yang kecil, aliran air yang deras juga berasal dari beberapa tetesan air yang terus menetes secara istiqomah.
Hati, mata dan pikiran kita telah dibutakan oleh semua proyek & tujuan besar yang bersifat materialistik itu! Ketika proyek – proyek dan tujuan itu tidak berhasil kita raih, kita lantas meratap dan hanyut dalam kesedihan yang mendalam. “ Allah benar – benar kejam! Ini tidak adil, Dia tidak memberiku kebahagiaan,” barangkali keluh kesah inilah yang menghinggapi kita. Na’udzu billah.
Teman – teman, kebahagiaan itu teramat murah dan mudah, selama kita tahu cara menikmati hidup ini. Kita tidak perlu tersandera oleh dogma kehidupan yang mendewakan kesuksesan, jabatan dan materi. Sadarilah bahwa didalam kesederhanaan dan hal – hal kecil yang kita lalui setiap hari, banyak tersimpan segudang keindahan dan juga kebahagiaan.
Ketentraman, kedamaian, kepuasan dan ketenangan jiwa yang dirasakan oleh orang – orang yang berbahagia itu akan selalu dianugerahkan kepada yang mendekap mesra keimanan dalam dadanya. Bahkan, dengan ketenangan dan ketentraman itu imannya akan semakin bertambah dan makin kokoh (Dr. Hamzah Ya’kub).
Teman – teman, kita bagaikan orang yang berada didalam mobil yang melewati jalan – jalan yang luar biasa indah pemandangannya. Tetapi, disaat itulah kita justru menutup gorden jendela (hati) kita, sehingga keindahan apapun yang berada disekeliling kita, walaupun dekat, tidak akan pernah kita lihat apalagi merasakannya. Maka mulai hari ini jangan hanya membuka mata kita untuk melihat sesuatu, tetapi bukalah mata hati kita untuk mengenali apa yang berada di sekeliling kita.
Berbahagialah karena Allah senantiasa mengasihi kita dengan segudang kebahagiaan yang diberikan-Nya! Hanya, terkadang kita tidak pernah mau menyadarinya.
Jika kita ingin bahagia, maka temukanlah cara yang bisa membuat orang lain bahagia... dan buat agar orang lain bahagia karenamu.
Sepenggal kisah Inspiratif
Wanita Ummu Mahjan
Ummu Mahjan adalah seorang wanita madinah berkulit hitam yang tidak pernah mengeluh apalagi bersedih menyesali nasibnya. Meski miskin dan bertubuh lemah, ia bahagia karena menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap aqidahnya dan masyarakat islam. Tetapi, apa yang bisa ia lakukan sementara ia sendiri adalah seorang wanita tua yang miskin dan lemah? Ia tidak pernah bimbang dan putus asa tentang hal itu. Baginya putus asa tidaklah dikenal di hati orang – orang yang beriman.
Ia bahkan tertinggal dalam membela islam. Memang, ia tidak bisa berbuat seperti layaknya orang lain. Ia tidak punya harta untuk diinfakkan. Juga tidak memiliki tenaga untuk pergi kemedan perang. Tapi, ia tidak pernah ketinggalan beramal. Kebahagiaan baginya adalah mencintai rasulullah, maka Ia ingin dirinya dikenang oleh Rosulullah SAW. Sehingga, dengan segenap semangat dan sisa tenaga yang ia miliki, ia melakukan suatu pekerjaan yang tidak pernah dilirik oleh orang lain, yaitu membersihkan masjid Rasulullah. Tiap hari beliau membersihkannya, sampai akhir hayatnya.
Kegigihan ummu mahjanpun menuai hasil. Malam itu, seusai sholat isya’, ummu mahjan dipanggil menghadap sang maha pencipta. Rasulullah merasa bersedih dan kehilangan wanita mulia itu. Wanita miskin itu begitu lekat dalam ingatan beliau. Setiap hari wanita beruban itu bekerja keras membersihkan masjid dengan senangnya. Sehingga rumah Allah itu benar – benar menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah dan bermusyawarah.
Wanita tua berkulit hitam itu memang bukan seorang pahlawan, tetapi sejarah telah mengukir namanya dengan tinta emas, meski nama aslinya tidak dikenal orang. Ummu mahjan adalah contoh dari orang yang berbuat seadanya, tetapi memperoleh kemuliaan dari ketekunan apa yang ia lakukan. Ia isi kehidupannya hari demi hari dengan penuh kebahagiaan dan keberkahan sampai akhir hayatnya dengan sebuah pekerjaan sederhana namun syarat akan pahala.
Amal yang dicintai Allah ialah yang dikerjakan terus – menerus meskipun sedikit (Sabda Rasulullah)
Jika ummu mahjan saja dengan tubuh yang lemah dan fisik yang lemah tak pernah mengeluh dengan keadaannya tapi selalu bahagia, karena berpegang teguh pada aqidahnya.
Lalu bagaimana dengan kita manusia yang dilengkapi tubuh sempurna dan fisik masih kuat, masih pantaskah kita untuk bersedih dan menjadikan alasan keemiskinan dan keterbatasan untuk tidak berbuat yang mulia dijalan Allah SWT.
Berbahagialah kawan & Tunjukkan Aktifitas terbaik dijalan Allah.....
La Tahzan.. Innallaha ma’ana




Tidak ada komentar:
Posting Komentar